Halo Teman-Teman, selamat datang di blog WillyBoy Audio!
Dalam artikel ini saya akan menunjukkan cara modifikasi amplifier yang cukup terkenal di kalangan penggemar audio kerehore yaitu Kinter MA-170:

Sudah pernah lihat kan amplifier ini? Kalau kamu baca artikel ini, kemungkinan kamu sudah punya amplifier ini atau sedang mempertimbangkan untuk membelinya. Walaupun dalam kondisi standar amplifier ini sudah berfungsi dengan cukup baik, ada beberapa cara yang sederhana untuk meningkatkan performanya. Saya akan jelaskan di sini disertai foto-foto jadi kamu lebih mudah memahami tulisan saya.
Amplifier ini bisa dibeli di marketplace online sekitar 100-125 ribu Rupiah belum termasuk power supply. Saya sarankan pakai power supply 12V 2A sudah cukup, tegangan DC maksimal 14V menurut saya, lebih dari itu agak panas chip-nya.
Ada beberapa generasi Kinter MA-170 ini. Generasi awal sekitar tahun 2013 pakai chip TDA7266, yaitu class AB dengan daya output 2x7W. Selanjutnya ada beredar yang pakai chip LA4625 rancangan ON Semiconductor. Teman kost saya punya amplifier ini, saya pinjam dan saya buka karena ingin tahu. Ternyata dia punya generasi pertama seperti foto ini:

Saya pikir, ini sangat menarik dan ada banyak potensi untuk dioprek, jadi saya segera beli juga! Sampai rumah, langsung saya buka, dan ini penampakannya:

Senang banget karena ternyata generasi terbarunya (pembelian April 2019) pakai chip TDA7297 yang lebih modern dan outputnya 2x10W.

Kalian bisa lihat bahwa selain chipnya, ada perbedaan juga pada layout PCB dan pemilihan komponennya. Kapasitor keramik yang dipakai di generasi lama sudah diganti dengan kapasitor keramik yang multi-layered (bahasa Inggris: Multi-Layered Ceramic Capacitor/MLCC) bahkan ada juga yang pakai mylar. Memang kalau kalian hobi oprek audio pasti anti sama yang namanya kapasitor keramik karena kurang stabil nilainya, apalagi kalau temperatur berubah. Saya tidak sempat foto sisi bawah PCBnya, tapi saya bisa bilang bahwa solderannya sangat rapi, seperti kualitas PCB rakitan Jepang.
Dalam modifikasi ini saya tidak akan mengganti nilai komponennya, hanya mengganti jenisnya dengan yang lebih bagus, memeriksa nilainya agar sesuai dengan yang tertera di PCB, dan menaikkan rating voltasenya agar lebih aman. Untuk menekan biaya produksi, amplifier ini dibuat dengan parts ala kadarnya, kapasitor pun tanpa merk. Biasanya yang seperti ini rating voltasenya kurang sesuai sehingga lebih baik kita ganti.

Langsung saja kita bahas satu-satu, mulai dari tone control treble. Di sini ada kapasitor MLCC 100nF dan mylar 10nF, kita akan ganti dengan kapasitor film MKT. Selanjutnya di tone control bass:

4 kapasitor kuning itu nilainya 47nF, kita akan ganti juga dengan kapasitor MKT. Yang gepeng warna orange itu keramik 100pF, kita akan ganti pakai keramik juga tapi yang tipe C0G, ini jauh lebih stabil walaupun tegangan dan temperatur naik-turun.
Op-amp bawaan pabrik sih tulisannya JRC4558D, tapi selama ini main audio belum pernah ketemu op-amp JRC yang markingnya seperti itu. Op-amp di Kinter ini fungsinya untuk tone control, jadi layak lah kita ganti dengan part yang lebih jelas asal usulnya. LOL.

Nah ini sudah saya cabut op-amp bawaannya, coba bandingan dengan JRC di sebelahnya, beda kan? Saya juga belikan soket kaki delapan agar bisa ganti-ganti op-amp tanpa harus menyolder.
Kapasitor elektrolit atau di Indonesia sering disebut elko juga perlu diperhatikan. Kalau merknya tidak jelas atau palsu, rating voltasenya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya tertulis 16V, tapi sebenarnya hanya 13-14V, maka waktu kita beri daya 12V itu sudah mendekati toleransi maksimalnya, akibatnya bisa bocor, menggelembung, bahkan meletus dan mengakibatkan korslet pada rangkaian kita. Di Indonesia, contoh elko yang bagus misalnya Panasonic, Rubycon, Nichicon, Elna, atau Nippon-Chemicon.
Selanjutnya, elko dengan nilai kecil di bawah 10uF biasanya nilainya tidak tepat dan kurang stabil. Karena itu, untuk nilai di bawah 10uF senior-senior audio menyarankan untuk menggantinya dengan kapasitor film. Masalahnya, kapasitor film 10uF seringkali besar dan mahal. Untuk nilai 4.7uF 50V ada sebenarnya Wima MKS2 tapi kalau saya pakai dua buah di sini, harganya sama dengan amplifiernya! Jadi, saya biasanya mengganti elko di bawah 2.2uF dengan kapasitor MKT.

Ini sebagian part yang saya ganti, elko kecil saya pakai Rubycon seri YXF, yang nilai 0.47uF saya ganti dengan kapasitor MKT yang kuning. Di posisi 220uF/16V saya ganti 220uF/25V dari Rubycon juga. Dioda bawaan 1N5401 saya ganti MUR460. Di bawah ini foto setelah semua terpasang, dan di bawahnya saya tampilkan foto sebelum dan sesudah dioprek.



Sesudah
Sekarang kita siap-siap masukkan kembali ke dalam casingnya. Ada semacam rel di sisi kanan dan kiri casingnya, pastikan PCB diselipkan di rel itu supaya casing bisa ditutup dengan sempurna.

Perhatikan di sisi kanan, chipnya dibaut ke casing yang berfungsi sebagai heatsink. Berikan thermal paste di sini agar transfer panasnya lebih cepat dan stabil. Terakhir, saya ganti LED bawaan yang warnanya berganti-ganti itu dengan warna putih terang. Menurut saya kesannya lebih elegan kalau satu warna saja, tapi itu soal selera sih.

Setelah modifikasi di atas, terasa peningkatan pada suaranya, bass lebih low, lebih bulat, dan vokal juga lebih natural. Sebelumnya saya biasa dengarkan pada knob volume posisi jam 3, sekarang jam 2 sudah keras sekali. Selamat mencoba!
Gan, kalau pakai 12v 5A kenapa cepat panas ya, apa harus pakai 12v 2A saja seperti saran agan?
LikeLike
Bang Udin, kalau pengalaman saya, yang bikin panas itu voltasenya, makin tinggi makin panas. Power supply 12V 5A sudah bagus Bang malah ampere besar membantu suaranya jadi bertenaga. Setelah dinyalakan 30 menit, apakah masih kuat dipegang sampai 5-10 detik? Kalau ya berarti masih normal. Lebih bagus lagi gunakan heatsink paste seperti tutorial di atas agar transfer panas dari chip ke casing lebih maksimal Bang. Demikian semoga bermanfaat, terima kasih kunjungannya.
LikeLike
Apakah anda juga menjualnya?
LikeLike
Saya sudah reply ke email ya Mas Azis. Terima kasih.
LikeLike